Ketika RINDU Itu Salah

Semua berawal ketika kita saling sapa di media sosial . Kamu laki – laki baru yang menyapaku setelah beberapa tahun aku terpuruk dalam masalalu ku . Semua terasa singkat, seiring berjalannya waktu kita merasa nyaman satu sama lain . Kamu mengatakan bahwa kamu menyayangiku . Mati matian aku menolak rasa yang muncul karena kehadiranmu .

Aku takut sakit, aku tak siap untuk jatuh cinta lagi . Tapi apalah daya, hati ini memang tak bisa diajak kerjasama . Aku juga menyayangimu, aku sudah terlanjur terbiasa denganmu . Aku menjalani hari hari baru ini denganmu . Aku tak tau kita ini apa, apa hubunganku denganmu, aku tak tau . Yang ku tau, aku terlalu menyayangimu .

Semua berlalu begitu cepat, hobimu yang membuat kita jarang untuk saling bertukar kabar lagi . Kamu terlalu sibuk dengan kegiatanmu hingga lupa ada aku disini, aku yang selalu menunggumu . Aku hanya ingin sesibuk apapun kamu, setidaknya beri kabar untukku . Tapi hanya meminta kabarpun aku tak bisa, aku salah . Bukan hak ku untuk melarangmu, aku hanya takut jika kamu lupa denganku . Aku takut kamu berpaling, tapi apalah aku ?

Dan sampai akhirnya aku memilih pergi, aku kira kau akan mencariku . Aku kira dengan rasa cintamu, kamu tidak rela aku pergi . Nyatanya aku salah, kamu lebih memilih aku pergi dan dengan mudahnya kamu bilang ini yang terbaik . Kalau ini yang terbaik kenapa aku menangis ? Sekarang semuanya sudah berbeda . Kamu bukan punyaku lagi, kabarmu bukan milikku lagi, cintamu bukan untukku lagi . Sekarang kau punya perempuan lain yang ‘mungkin’ lebih mengertimu daripada aku . Aku tidak baik baik saja disini, aku menangisi dirimu yang membiarkan aku pergi . Tapi sekarang, memang aku harus pergi..

Advertisements

Dariku Yang Sempat Memimpikanmu

Seandainya aku mampu, akupun ingin egois atas dirimu . Tapi aku tau ada tanggung jawab yang harus kau emban . Ada banyak hal yang harus kamu fikirkan dan kamu pertimbangkan . Asal kamu tau, aku tak kan setega itu, tak mungkin memintamu memilihku dan begitu banyak berkorban untukku . Andai Tuhan mengizinkan, akupun ingin berada disisimu meski tak mampu mengurangi bebanmu, setidaknya aku ingin menjadi seseorang yang akan menguatkanmu ketika kamu lemah, menjadi tempatmu bersandar dikala kamu lelah . Setidaknya aku ingin menjadi yang disisimu, yang kan memelukmu hangat dan berkata “tak apa, semuanya akan baik baik saja” ketika kamu putus asa . Jika Tuhan mengamini, akupun ingin menjadi salah satu alasanmu untuk tetap membuka mata kala pagi menyapa . Jika Tuhan mengizinkan, akupun ingin menjadi tempatmu berbagi tangis dan tawa . Menjadi sosok yang dipanggil ‘Ibu’ oleh putra putrimu .

Tetapi sekali lagi, aku tak mungkin seegois itu . Tak mungkin memintamu memilih dan tak kan sanggup melukaimu . Tak mungkin ku biarkan kau memilihku jika harus melukai orang orang yang kau kasihi . Jika restu ibumu pun tak mungkin kamu gapai untukku, akupun pasti tak akan membiarkanmu menjadi anak durhaka..

Namamu Yang Terlanjur Kusebut Dalam Do’aku

Ikhlas ? Tentu saja belum . Aku hanya berusaha menerima keputusanmu dan berusaha berlapang dada . Belajar merelakanmu tentu tidaklah mudah . Bagaimana mungkin aku melepaskan nama yang selalu kusebut dalam do’a . Nama yang belakangan ini berusaha menerobos dinding tebal dihatiku hingga dengan berani kubawa namamu padaNya.
Sebanyak apapun do’a yang kupanjatkan kepadaNya, sesering apapun namamu kurapalkan dalam setiap sujudku, jika Tuhan belum meridhoi kita bisa apa ? Mungkin belum saatnya kita dipertemukan, mungkin waktu yang belum tepat untuk kita bersanding bersama. Atau mungkin Tuhan punya rencana lebih indah dari yang kita susun berdua. Entahlah, tidak ada yang bisa memastikan janji seseorang pada siapapun. Yang harus kulakukan hanya yakin pada Tuhanku, hanya Tuhan .

Bukankah janjiNya lebih pasti dibandingkan janji mahluknya ?”

Tapi tetap saja aku hanyalah seorang wanita, mahluk paling berperasaan sedunia. Meski dengan elok menahan harapan itu muncul, pada akhirnya akulah yang paling mengharapkan harapan itu agar menjadi nyata .

Entahlah, tapi dibanding berandai – andai suatu saat Tuhan akan mempersatukan, kupikir akan lebih baik tidak menciptakan imajinasi secuil anganpun. Bukan tak berani bermimpi, hanya saja keinginan itu tidak akan terjadi jika impian berdua dilakukan oleh sebelah hati .

Bukan salah siapa siapa jika kini kita belum bisa bersama, mungkin waktu yang akan mengobati perih saat ini . Meski namamu tak lagi kusebut dalam do’aku, aku tetap berharap yang terbaik untukmu.  Jika nanti Tuhan mengizinkan namamu dan namaku tertulis beriringan, mungkin kaulah obat perihku dimasa mendatang . Namun jika kita tetap dijalan yang berlainan, tentulah rencana serta jawaban Tuhan lebih indah .

“Biarkan saja angin berhembus sebagaimana seharusnya”

Dan jauh sebelum aku mengenalmu, aku sudah lebih dulu mengenal penciptaku . Keputusanmu untuk pergi kuyakini sebagai campur tangan Tuhan yang bahkan tidak dapat ku kendalikan dan ku tolak. Melepaskanmu mungkin saja, namun merelakanmu adalah hal yang berbeda . Tapi setidaknya patah hati memberiku ruang lebih untuk berintropeksi .

Aku harus lebih bermanja dengan ilahi, merayu sang pencipta dengan segenap iman yang tertanam dihati . Bukan lagi untuk memperbincangkanmu, lebih dari itu aku harus memperbincangkan masa depanku, akhirat dan duniaku ..